Kaum Mistik

Jika Tuhan memang ada, tidak hanya ia ulung meninggalkan jejak. Lebih dari segalanya, ia ahli menyembunyikan diri. Dan dunia bukanlah sesuatu yang pandai bercerita. Langit masih menjaga rahasia mereka. Tidak banyak desas desus yang beredar di antara bintang-bintang.
―Jostein Gaarder

Kita selalu menginginkan adanya penjelasan menyeluruh tentang manusia, Tuhan dan alam semesta. Sementara di lain pihak, hal itu disembunyikan, penjelasan yang diberikan hanya setengah-setengah. Kita punya bulan yang menjadi saksi tentang semua hal yang terjadi di bumi. Tapi dia hanya membisu, takkan bercerita. Tuhan meninggalkan jejak berupa dunia, langit, bintang yang tidak pandai bercerita. Kita terus menerus mencari penjelasan namun dunia masih tetap misteri. Beberapa orang beralih ke mistisisme.

Dalam mistisisme, upaya untuk mengenal Tuhan tidak dilakukan dengan pikiran menggunakan ilmu alam dan rasionalisme murni, namun digantikan oleh sebuah pengalaman penyatuan dengan Tuhan. Menurut Albert Schweitzer, pengalaman penyatuan dengan Tuhan bukan berarti tidak rasional. Hal ini merupakan konsekuensi dari rasionalisme, konsekuensi yang paling berani dan radikal. Di mana kita menyadari (secara rasional) akan keterbatasan fundamental kita, yaitu kita tidak akan pernah memahami tentang misteri manusia dan alam semesta. Jadi bisa dibilang mistisisme merupakan konsekuensi logis dari teologi.

Secara imajiner dapat diungkapkan bahwa kaum mistik harus mengembara menuju singgasana Tuhan, di mana hanya orang-orang yang layak atau diberkati sifat-sifat tertentu yang bisa mencapai ke sana.

Buddha menemukan jalannya menuju Nirvana melalui labirin jiwa.
Nabi Musa bertemu Tuhan dalam nyala api di lereng gunung.
Roh kudus turun kepada sahabat-sahabat Yesus di langit berupa suatu bunyi seperti tiupan angin keras dan lidah lidah seperti nyala api.
Nabi Muhammad melakukan perjalanan Isra’ Mi’raj melewati tujuh lapisan langit.

Tuhan terlihat memiliki segudang cara untuk berkomunikasi dengan manusia. Pengalaman-pengalaman tersebut bersifat subjektif terhadap orang-orangnya, bukan persepsi terhadap suatu fakta objektif di luar diri atau universal. Tapi mungkin itu karena Tuhan memang punya segudang cara, dan manusia ditugaskan untuk tidak berhenti mencari-Nya.

Knock, knock, knockin’ on heaven's door
Knock, knock, knockin’ on heaven's door
― Bob Dylan

Sebenarnya masih susah untuk mempercayai hal-hal tersebut karena aku belum pernah mengalaminya. Tapi bukan berarti aku tidak percaya atau menolak kalau hal itu pernah terjadi kepada orang lain.

When all are one and one is all, yeah
To be a rock and not to rooooooooll

And she’s buying a stairway to heaven
― Led Zeppelin

Referensi:
Maya - Jostein Gaarder
A History of God - Karen Armstrong
The Art of Loving - Erich Fromm